Pengaruh Soekarno Dalam Mimpi Besar Anamfal Pesantren Go Global (Bag. 2)



إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
"Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum 
sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."
(QS. Ar-Ra’d [13] : 11)

Dalam rindu yang memuncah pada sosok Soekarno. Juga selimut masalah yang dihadapi Pesantren Qur'an Anamfal. Khususnya finansial. Mumpung masih di Blitar. Penulis ketik lanjutan dari Pengaruh Soekarno Dalam Mimpi Besar Anamfal Pesantren Go Global (Bag. 1). Kini bagian 2. Menulis di kafe yang buka hingga jam 00:00. Pas depan komplek makam Soekarno. Ingin dekat-dekat Bung Karno, mumpung masih di sini. Merasakan kehadiran dan ajarannya.

Setelah menulis sebelumnya itu, yang memuat 11 petikan inspirasi Putera Sang Fajar. Muncul berbagai pidato dan tulisan Soekarno yang benar-benar mengarahkan pesantren, baik langsung atau tidak langsung, berkiprah lebih luas lagi. Terlebih renungan sambil ziarah dan ke museum Soekarno telah dilakukan. Tinggal ke perpustakaan Soekarno besok. Insya Allah.

Bertahun-tahun cinta dan rindu itu lahir sejak kecil. Baru kali ini bisa "menjenguk" Sang Pujaan






































Berikut diantaranya bagian 2, pidato inspirasi Soekarno yang mempengaruhi Pesantren Qur'an namfal upaya go internasional :

1. "Gantungkan cita-cita mu setinggi langit. Jika engkau jatuh. Engkau akan jatuh di antara bintang-bintang."

Ini pula yang menjadi pegangan penulis saat ditanya salah satu Muhsinin yang bertanya, "Untuk di pusat. Pesantren perlu tanah berepa meter?"  Sepontan langsung menjawab, "Jika pesantren Anamfal pusat, ingin menjadi pionir di antara pesantren besar di Indonesia. Pesantren Anamfal harus bisa menampung 100.000 santri. Karena saat ini pesantren dengan santri terbanyak di Indonesia sudah bisa menampung 10.000 santri dalam satu kompleks. Maka Anamfal pusat, memerlukan 100 hektar. Perkiraan 1 hektar, bisa menampung 1000 santri."

Lanjut penulis, "Jika di pusat bisa menampung 100.000 santri. Maka untuk cabang pesantren Anamfal di luar negeri setidaknya diproyeksikan kira-kira bisa menampung 10.000. Jika di kali 111 negara atau tempat. Maka Anamfal, mendidik 1 juta santri seluruh penjuru bumi. Ini adalah sejarah baru bagi pesantren Indonesia, bahkan catatan pendidikan tingkat dunia." 

Istri Muhsinin, sambil menghadirkan soto untuk disantap bersama, Ia bergumam, "Wah gede banget itu ya." Dengan wajah mungkin percaya gak percaya, namun tersirat jelas ada takjub di wajahnya. Lanjut penulis jawab, "Yah bapak-ibu, jika 100 hektar tidak dapat. Setelah diupayakan, insya Allah 10 hektar dapat. Jika 100.000 santri tidak dapat, insya Allah 10.000 santri dapat. Namun jika target misal hanya 100 santri, nanti dapatnya 10an santri." Tutup penulis sambil senyum bersama.

2. "Kita bangsa besar. Kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis. Kita tidak akan meminta-minta. Apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini, syarat itu. Lebih baik makan gaplek, tetapi merdeka. Daripada makan bistik, tapi budak."

Ajaran dan nilai Soekarno seperti inilah yang membuat jiwa ini, tidak ridho jika kita sebagai anak bangsa minder dan tidak percaya diri dengan anak bangsa lain. Keyakinan begitu menghujam pula, bahwa Indonesia adalah negara besar. Kebesaran Indonesia itu sendiri, belum banyak masayarakat yang menyadari posisi dan potensinya. 

3. "Suatu bangsa hanyalah menjadi kuat kalau patriotismenya meliputi patriotisme ekonomi. Ini memang jalan yang benar, ke arah kekuatan bangsa. Jalan yang jujur, jalan yang tepat."

Untuk mewujdukan mimpi Indonesia menjadi pemimpin dunia, setidaknya dengan peradaban pesantren yang mengisi kebutuhan pendidikan menengah ke bawah. Tidak bisa tidak, kita harus mampu ekonomi. Bisa pula, bahasa Bung Karno, adalah Berdikari. mau gak mau, suka atau tidak suka. Kita harus mandiri. 

4. "Seribu orangtua hanya bisa bermimpi. Tetapi seorang pemuda, mampu untuk mengubah dunia." 

Quote semacam ini. Kadang, penulis juga meragukannya. Masa iya jumlah orangtua sebanyak itu hanya bermimpi. Namun ada benarnya juga. karena ada banyak faktor sehingga usia senja tidak mudah mewujudukan passion dan mimpinya. Misal gampang sakit-sakitan dan gampang lelah. Namun positifnya, ambil quote Soekarno ini sebagai penyemangat dan motivasi agar kita generasi muda percaya diri dan benar-benar upayakan untuk mengubah dunia. Semoga kita termasuk The Chosen.

5. Jangan engkau menghirup pengetahuan hanya untuk pengetahuan. Hiruplah pengetahuan untuk berjuang. Berjuang untuk tanah airmu, untuk bangsamu, untuk perikemanusiaan."

Hal ini sama seperti agama. Jangan berhenti di ritual dan wacana. Begitu pula ilmu pengetahuan, bukan sebagai tujuan. Namun alat.

6. "Inti jiwa daripada proklamasi 17 Agustus 1945 ialah, agar bangsa Indonesia ini sebagai satu keluarga besar yang tidak terpecah belah. Hidup di dalam satu rumah besar yang bernama Republik Indonesia, yang berwilayah kekuasaan dari Sabang sampai ke Merauke."

Pernah masa akhir Aliyah dan awal kuliah S1. Penulis berfikir. Proses kerja negara, dapat diumpamakan dengan keluarga. Namun tentu keluarga besar. Nah, satu keluarga tipe anggotanya bisa berbagai macam karakter dan pandangan. Tak heran pula, saat kita bertemu orang Indonesia di luar negeri. Entah suku apapun, agama apapun. Apalagi yang satu kota dan agama. Merasa langsung klop jiwa. Benar-benar rasa keluarga. Langsung klik, nyambung, dan ada rasa percaya. Dan ternyata, pernyataan Bung Karno ini sejalan atau bahkan menguatkan pendapat penulis.

7. "Negara yang tidak menyembah kepada Tuhan, negara yang tidak ber-Tuhan, akhirnya celaka. Lenyap dari muka bumi ini."

Pidato ini, Soekarno sampaikan in my campus; UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kala itu bernama, IAIN. Pada 2 Desember 1964. Ketika Bapak Bangsa ini menerima gelar Doctor Honoris Causa, bidang dakwah. Dapat dikatakanlah pidato-pidato beliau yang menggelorakan masyarakat dan mengarahkan semua komponen warga untuk maju. Terlebih sebagian pula beliau berbicara agama, termasuk Qur'an. Seperti ayat yang dikutip pada awal tulisan ini. Soekarno itu pulalah dapat disebut seorang da'i. Bahkan kalau istilah ahli pidato di pesantren, disebut Singa Podium.

8. "Kami bangsa Indonesia, tidak bersedia bertopang dagu, sedangkan dunia menuju keruntuhannya."

Saat memasuki semacam gerbang di komplek makam Soekarno di Blitar. Banner yang bertuliskan quote tersebut yang pertama terpampang. Penulis temui. Di dinding tiang panjang, banner memanjang. Ini adalah bukti dan makin menguatkan bagaimana pandangan-pandangan Bung Karno untuk tidak sekedar memikirkan bangsanya sendiri. Bumi pertiwi yang kita cintai. Kita tidak boleh berdiam diri, sedang dunia internasional sedang ada masalalah. Termasuk masalah Palestina, Indonesia harus di garda terdepan memimpin langkah nyata agar Palestina bisa merdeka. Kita tahu betul, bagaimana pahit dan perihnya sebagai bangsa yang dijajah ratusan tahun lamanya.

9. "Dari pengorbanan-pengorbanan hari sekarang. Itulah maka hari Indonesia baru akan terlahir. Lebih besar dan lebih mulia daripada Indonesi sekarang. Ya, lebih mulia daripada Indonesia dahulu. No sacrifice is wasted! Karenaya putera-puteri Indonesia, bekerja, bekerja, dan janganlah putus asa."

Dari pernyataan ayah yang juga beranak presiden, dan partai anaknya, melahirkan presiden juga. Bahkan dua periode ini. Penulis menangkap dua poin. Pertama, untuk kebesaran dan kemuliaan hari esok, harus ditanam dengan pengorbanan-pengorbanan hari ini. Kedua, generasi bangsa konsisten bekerja, jangan ada kata nganggur. Dan dalam bekerja itu, dengan segala tantangan dan rintangan. Jangan berputus asa. Ini seperti hukum alam. Siapa yang bekerja, akan ada cobaan. Namun di balik itu ada kebesaran dan kemuliaan.

10. "Di dalam Kitab Ramayana itu sudah dikatakan. Hemm..., negeri yang begini tidak bisa menjadi negeri yang besar. Sebab tidak ada, ke-up and down! up and down! Perjuangan, tidak ada. Semuanya adem tentrem. Seneng, seneng pun tidak terlalu seneng. Tidak terlalu sedih. Sudahlah tenang-tenang Utara Kuru. Apakah engkau ingin menjadi suatu bangsa yang demikian saudara-saudara? Tidak! Kita tidak ingin menjadi suatu bangsa yang demikian. Kita ingin menjadi suatu bangsa, yang seperti tiap hari digembleng oleh keadaan. Digembleng, hampir hancur lebur. Bangun kembali. Digembleng, hampir hancur lebur, bangun kembali."

Hampir menangis saya mendengar pidato Soekarno ini dan menuliskan teks/lirik nya. 100-150 meter di depan ada pusara sang pujaan hati ini. Saat bisnis di Ciputat, Tangsel, jatuh dan bangkrut. Pidato ini yang membuat kaki ini masih berani bertengger dan menghadapi semua masalah. "up and down! up and down!" kata yang begitu tepat menemani perjuangan ini. Termasuk saat ini dengan Pesantren Qur'an Anamfal. Selain diksi, "perjuangan" dan "tiap hari digembleng oleh keadaan". Hadirnya gelegar suaranya, menimbulkan optimistis dalam mengarungi hidup dan ikhtiar mencapai mimpi besar. Semoga kita menjadi orang besar, di negara besar ini.

11.  "Bagi orang-orang besar satu-persatu tidak luput dari salah. Oleh karena sekadar manusia biasa. Siapa berani berkata, bahwa Bismarck tidak pernah bersalah? Siapa berani berkata bahwa Mirabeau tidak pernah bersalah? Siapa berani berkata bahwa Gladstone tidak pernah bersalah? Siapa berani berkata bahwa Garibaldi tidak pernah bersalah? Siapa berani berkata bahwa Mao Tse Tung tidak pernah bersalah? Siapa berani berkata bahwa Gandhi tidak pernah bersalah? Terhadap orang, Gandhi. Siapa berani berkata bahwa Stalin tidak pernah bersalah? Siapa berani berkata bahwa Jose Rizal Mercado Filipina tidak pernah bersalah? Pernah bersalah. Oleh karena memang khilaf, salah, adalah sifat manusia."

Pidato ini benar-benar membuat hati damai. Bahwa kita manusia pasti melakukan salah. Siapa yang berani membantah pernyataan ini? Tidak ada satupun. Al-Qur'an sendiri sudah menyampaikan dalam surah An-Nur, surat ke-24 ayat 21, yang juga penulis kutip dalam buku Young Husnudzon: مَا زَكَىٰ مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا (Niscaya tidak ada seorangpun diantara kalian yang bersih selama-lamanya.) Termasuk kita jangan mundur, ataukah takut, saat ada orang yang membicarakan kesalahan orang lain, seolah dirinya tidak pernah berbuat salah. Terlebih itu ghibah.

Maka, teruslah menatap ke depan. Terlebih membangun Pesantren Qur'an Anamfal di usia muda. SDM dan finansial terbatas. Termasuk ilmu dan pengalaman belum seperti ulama sepuh 50-70 tahun. Tetaplah melangkah. Selagi niat dan tujuan baik. Dan apalagi, berbuat salah di masa muda. Pintu maaf lebih besar di buka. Dibandingkan berbuat salah di masa tua. Ini anggapan manusia. Jangan lupa pula untuk terus memohon ampun pada Allah dan beristighfar. Serta tak sungkan meminta maaf, pada pihak yang jelas telah terdampak dan atau terdzolimi.

Tulisan ini selesai esoknya di komplek Perpustakaan Soekarno, Blitar. Selasa, 04 november 2019. Klik untuk membaca >>> Pengaruh Soekarno Dalam Mimpi Besar Anamfal Pesantren Go Global (bag. 1).