• Cirebon, Indonesia
  • 0899-5625-137
  • anamfal.pesantren@gmail.com
Santri Anamfal, Ikut Seleksi Musabaqoh Hifzil Quran (MHQ) Ke-5 Tingkat Asean Santri asal Riau, juara 1 Lomba Pidato se-Jabodetabek Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) di Bogor Praktek Bahasa Asing dan Pengembangan Wawasan Global di @America dan Korean Culture Center Indahnya Hidup Kami, Kareana Selalu Bersama Al-Quran Santri Ditanamkan Pendidikan Tujuan Hidup, Makna Ibadah, Dzikir, dan Amal

Senin, 22 November 2021

Prinsip Dasar Jalan Menuju Keberhasilan Pembangunan Infrastruktur Pesantren

Prinsip Dasar Jalan Menuju Keberhasilan Pembangunan Infrastruktur Pesantren

Muassis dan Khodimul Ma'had Pesantren Qur'an Anamfal

Dalam tulisan ini, tidak banyak dibahas teori dan limpahan rujukan. Ini adalah ilmu pengalaman, atau disebut "Street Smart". Sangat ringkas, dan teknis. Sebagai seorang santri dan pesantren, lebih banyak sisi ikhtiar spiritual berupa amalan-amalan. Kami tanyakan langsung kunci-kunci keberhasilan dari empiris pengalaman para kyai-ulama secara langsung dalam membangun asrama dan semua fasilitas pesantren. Baik dari pesantren salaf (tradisional), dan khalaf (modern). 

Saat kegiatan Khotmil Quran dan Syukuran Peletakkan Batu Pertama Asrama Anamfal

Kyai-Ulama tersebut dari beberapa kota; Cirebon, Kuningan, Subang, Jakarta, Bekasi, Tangerang, Demak, Kendal, Kudus, Sumedang, dan lainnya. Bahkan teringat juga pengalaman lembaga Islam di Malaysia. Bisa dikatakan ini ilmu mahal. Ilmu ini tidak ditemukan di bangku sekolah bahkan di kelas pesantren sekalipun. Berdasar pada kaidah, "Keberhasilan meninggalkan jejak". Kami tiggal mengikuti jejak yang proven tersebut. Kami kumpulkan menjeadi poin-poin kiat keberhasilan pembangunan infrastruktur pesantren sebagai berikut: 

  1. Luruskan niat karena Allah SWT.
  2. Sabar, Tulus dan ikhlas menjalani mengurus santri dan pesantren. Apalagi santri-santri awal, biasanya lebih berat. Banyak ulah dan cobaan. Jaga santri yang ada. Dibuat betah.
  3. Tahap awal, fokus banyakin santri. Kualitas sambil jalan, atau berjalannya waktu. Ada prioritas. 
  4. Pahami kaidah dalam Kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah as-Sakandari, Anda termasuk Makam Asbab (hukum sebab-akibat, melakukan usaha mencari rejeki) atau Makam Tajrid (mengkhususkan ibadah dan meninggalkan usaha mencari rejeki).
  5. Jadikan orangtua raja. Penuhi dan layani kebutuhan orangtua, khususnya ibu. Raih ridha mereka. Mohon doanya.
  6. Makin tawadlu belajar dan mengambil kebaikan dari semua orang. Serta siap turun ke hal-hal kecil sederhana.
  7. Menangislah hanya pada Allah. Senangis-nangisnya. Hanya Allah jadikan sandaran. Jangan berharap ke orangtua atau orang lain. 
  8. Waktu pembangunan untuk skala kecil 3 bulan, hal ini dengan dana sudah siap. Dalam skala besar rata-rata 2-5 tahun. 
  9. Untuk pesantren salaf, mayoritas tidak menggunakan jasa arsitek atau rancang desain. Langsung terjuan dan praktek. Untuk pesantren khalaf, membuat rancang bangun dan dibantu arsitek.
  10. Jika tidak mengerti atau tidak bisa, tanya dan atau percayakan pada ahlinya
  11. Terkait hutang: 1) Dari pengalaman yang menggunakan basis hutang, apalagi pinjam ke bank. Lebih baik hindari terlebih riba. Banyak yang stres dan sakit-operasi berat 2) Jika terpaksa hutang, carilah yang tidak ada bunga/riba. Bahkan ada Muhsinin yang meminjamkan, pas bayar lunas, mengembalikan sebagian untuk sedekah. Patuhi tempo pembayaran 3) Daripada hutang, lebih baik mengajak muhsinin untuk wakaf atau buat proposal.
  12. Untuk membangun yang memerlukan uang besar dan cepat. Memang harus menjual tanah, atau mobil. Aset. Banyak kasus menjual mobil berganti-ganti berkali-kali (4-6 x). Pada akhirnya dapat mobil yang lebih bagus. Ini juga membuktikan bahwa kita tidak cinta dunia, harta yang kita miliki siap sedia di jalan Allah. 
  13. Untuk keberhasilan pembangunan besar, harus dimulai dari sendiri. Kepercayaan orang lain tumbuh setelah kita sudah mulai dari diri, atau pengorbanan diri. Gedung juga sudah mulai kelihatan bentuk atau hasilnya. 
  14. Sebelum pembangunan atau bahkan mendapatkan tanah. Sering-sering lokasinya di-ngaji-kan. Baik al-Fatihah, hingga Khotmil Qur'an. Banyak-banyak pula disholawatin.
  15. Shalat Dluha
  16. Shalat Tahajjud dan Hajat, bahkan ada yang menyarankan shalatnya lebih awal (misal tidak jam 4 pagi), agar tidak ngantri dalam menghadap Allah. Sehingga masuk prioritas dalam pandangan Allah.
  17. Sedekah tiap hari. Bahkan ada yang menasihatkan setiap ada pemasukan, sedekahkan 20% prosentasenya. Termasuk pesantren harus sedekah ke lembaga-lemabaga yang sama sedang membutuhkan, atau lebih kecil darinya. Baik dalam kondisi lapang, atau sempit.
  18. Tiap Jum'at Kliwon, baca Khotmil Qur'an Bisu. Biasanya 2 hari, 2 malam. Di ruangan khusus. Tidak berbicara dengan siapapun. Makan tetap. Insya Allah langsung ada petunjuk solusi, dan hasil. 
  19. Shalawat sehari 1000-2000x. Pas Jum'at 2000-4000x. Shalawat pendek saja tidak apa-apa. Sehari-semalam.
  20. Ngaji Al-Qur'an sebulan minimal 1x khatam. Bagus Fami Bisyauqin, seminggu khatam via jalur Ahlul Qur'an.
  21. Baca Al-Mulk ba'da Subuh, Ya Siin ba'da Maghrib, Al-Waqiah ba'da Isya. Saat baca Surah Waqiah, pas (ayat 32) وَفَاكِهَةٍ كَثِيرَةٍ diulang 14x. 
  22. Ziarah minimal sebulan 1x ke Ulama besar dan keluarga/orang tua.
  23. Jika mengundang masyarakat untuk wakaf, buat laporan dan dokumentasi sebagai pertanggungjawaban dan melahirkan kepercayaan.
  24. Jika ingin bantuan pemerintah atau lembaga terkait, status tanah atau pembangunan adalah wakaf. Ex: Kemenag, PU PR, lembaga Timur Tengah, dan semacamnya.
  25. Jika istri marah-marah uang kurang, dandan kurang, emas terjual. Tunjukin hasilnya, seperti sertifikat tanah. Bersabar demi tujuan yang lebih besar.
  26. Minimal sebulan sekali silaturrahim dan belajar langsung ke berbagai tokoh kyai-ulama pesantren yang telah berhasil. Minta do'a dan nasihatnya.
  27. Saat ada calon Muhsinin atau Aghniya yang dituju atau agar hasil, kirim al-Fatihah dan sebut namanya.
  28. Amalan khusus Ngaji Ya Siin 41x
  29. Amalan khusus Shlawat Nariyyah 4444x
  30. 70 Persen kehadiran fisik mendidik dan mengajar di pesantren. 30 Persen ikhtiar di luar. Contoh dalam seminggu 2-3 hari di luar, 4-5 di pesantren.
  31. Ada orang yang diamanahi dan menetap di pesantren. Memastikan berjalannya proses pendidikan dan ngaji.
  32. Komunikasi terjalin harian dengan Muhsinin secara PM, kirim hal-hal yang bermanfaat, mengingatkan ibadah, dan progress-laporan.
  33. Buat santri-santri menjadi alumni yang berhasil. Nanti juga alumni sendiri yang akan bantu tenaga dan uang-harta. ketika mereka berhasil.
  34. Jangan terlalu dipaksakan. Kalau uang habis, istirahat dulu. Jika sudah ada rezeki, lanjut lagi. Jika dipaksakan, akhirnya stres dan sakit.
  35. Kalau bisa tiap hari, ada saja yang bekerja. Bahkan minimal 1-2 orang. Selama proses pembangunan tetap jalan. Usahakan tidak berhenti. 
  36. Memiliki usaha atau bisnis, untuk keperluan hidup pribadi dan bahkan membantu pembangunan.

Dari berbagai poin-poin kiat keberhasilan pembangunan infrastruktur pesantren tersebut, kami sendiri dalam proses belajar dan terus ikhtiar istiqomah mengamalkan. Man saaro 'alaa darbi washola (Barang siapa berjalan di jalannya, pasti akan sampai). Semoga jalan-jalan yang ditempuh, membawa kami pada garis finish yang sama. Pendahulu kyai-ulama yang telah sukses. Bahkan lebih baik lagi. 


Taman Manis-Cirebon, 22 Nov 2021.

Senin, 08 November 2021

Dalil dan Dasar Keutamaan Shalawat


Dalil dan Dasar Keutamaan Shalawat 

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا 
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya."
(QS. Al- Ahzab [33] : 56)

مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ 
"Siapa saja yang membaca shalawat kepadaku sekali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali, menghapus sepuluh dosanya, dan mengangkat derajatnya sepuluh tingkatan." 
(HR. An Nasa’i)

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا. 
"Barang siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali."
(HR. Muslim)

مَن صلَّى عليَّ صلاةً واحدةً صلَّى اللَّهُ عليهِ عشرَ صلَواتٍ، وحُطَّت عنهُ عشرُ خطيئاتٍ، ورُفِعَت لَهُ عشرُ درجاتٍ 
“Barang siapa di antara umatmu yang bershalawat kepadamu sekali, maka Allah menuliskan baginya sepuluh kebaikan, menghapuskan dari dirinya sepuluh keburukan, meninggikannya sebanyak sepuluh derajat, dan mengembalikan kepadanya sepuluh derajat pula'." 
(HR Ahmad)

أَوْلى النَّاسِ بِي يوْمَ الْقِيامةِ أَكْثَرُهُم عَليَّ صَلاَةً  
"Manusia yang paling berhak bersamaku pada hari kiamat ialah yang paling banyak membaca shalawat kepadaku." 
(HR Tirmidzi).

«إذا سَمِعْتُمُ النِدَاءَ فقولوا مثلَ ما يقولُ، ثمَّ صَلُّوا عَلَيَّ، فإنّه مَنْ صَلّى عَلَيَّ صلاةً صلى اللهُ عليه بها عَشْرَا، ثمّ سلوا اللهَ ليَ الوَسِيْلَةَ، فإنّها مَنْزِلَةٌ في الجنّة لا تنبغي إلاّ لِعَبْدٍ مِنْ عباد الله، وأرجو أن أكونَ أنا هو، فَمَنْ سألَ لِيَ الوَسِيْلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَفَاعَةَ» 
"Jika kalian mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti yang diucapkan muadzin, kemudian bershalawatlah kepadaku. Sesungguhnya orang yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Lalu, mintalah kepada Allah wasilah untukku karena wasilah adalah sebuat tempat di surga yang tidak akan dikaruniakan, melainkan kepada salah satu hamba Allah. Dan, aku berharap bahwa akulah hamba tersebut. Barang siapa memohon untukku wasilah, maka ia akan meraih syafaat."
(HR Muslim)

سمعَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ رجلًا يَدعو في صلاتِهِ لم يُمجِّدِ اللَّهَ تعالى ولم يُصلِّ علَى النَّبيِّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ فقالَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ عجِلَ هذا ثمَّ دعاهُ فقالَ لَهُ أو لغيرِهِ إذا صلَّى أحدُكُم فليَبدَأ بتَمجيدِ ربِّهِ جلَّ وعزَّ والثَّناءِ علَيهِ ثمَّ يصلِّي علَى النَّبيِّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ ثمَّ يَدعو بَعدُ بما شاءَ 
"Apabila salah seorang di antara kamu membaca shalawat, hendaklah dimulai dengan mengagungkan Allah Azza wa Jalla dan memuji-Nya. Setelah itu, bacalah shalawat kepada Nabi. Dan setelah itu, barulah berdoa dengan doa yang dikehendaki." 
(HR Ahmad)

اخواني أكثروا من الصلاة على هذا النبي الكريم فإن الصلاة عليه تكفر الذنب العظيم وتهدي إلى الصراط المستقيم وتقي قائلها عذاب الجحيم ويحظي في الجنة بالنعيم المقيم 
“Wahai para sahabatku, perbanyaklah membaca shalawat untuk nabi mulia ini. niscaya shalawat itu menghapus dosa besar, menunjuki ke jalan lurus, melindungi orang yang mebacanya dari siksa neraka jahim,” 
(Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, Kitab Kifayatul Atqiya wa Minhajul Ashfiya)

Dalil dan Dasar Keutamaan Shalat Dhuha


Dalil dan Dasar Keutamaan Shalat Dhuha


« مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ ». قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ 
“Barangsiapa yang melaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah lalu ia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua raka’at, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umroh.” Beliau pun bersabda, “Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna.” 
(HR. Tirmidzi)

"Setiap pagi, ruas anggota tubuh kalian harus dikeluarkan sedekahnya. Amar ma’ruf adalah sedekah, nahi mungkar adalah sedekah, dan semua itu dapat diganti dengan shalat dhuha dua raka’at," 
(HR Muslim)

فِى الإِنْسَانِ سِتُّونَ وَثَلاَثُمِائَةِ مَفْصِلٍ فَعَلَيْهِ أَنْ يَتَصَدَّقَ عَنْ كُلِّ مَفْصِلٍ مِنْهَا صَدَقَةً ». قَالُوا فَمَنِ الَّذِى يُطِيقُ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « النُّخَاعَةُ فِى الْمَسْجِدِ تَدْفِنُهَا أَوِ الشَّىْءُ تُنَحِّيهِ عَنِ الطَّرِيقِ فَإِنْ لَمْ تَقْدِرْ فَرَكْعَتَا الضُّحَى تُجْزِئُ عَنْكَ 
“Manusia memiliki 360 persendian. Setiap persendian itu memiliki kewajiban untuk bersedekah.” Para sahabat pun mengatakan, “Lalu siapa yang mampu bersedekah dengan seluruh persendiannya, wahai Rasulullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan, “Menanam bekas ludah di masjid atau menyingkirkan gangguan dari jalanan. Jika engkau tidak mampu melakukan seperti itu, maka cukup lakukan shalat Dhuha dua raka’at.” 
(HR. Ahmad)

"Orang yang mengerjakan shalat dhuha tidak termasuk orang lalai," 
(HR. Al-Baihaqi dan An-Nasa’i)

"Siapa yang membiasakan (menjaga) shalat dhuha, dosanya akan diampuni meskipun sebanyak buih di lautan."
(HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

أَوْصَانِي خَلِيلِي بِثَلَاثٍ لا أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ : صَوْمِ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، وَصَلاةِ الضُّحَى، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ 
Abu Hurairah RA berkata “Kekasihku (Rasulullah SAW) telah berwasiat kepadaku tentang tiga perkara agar jangan aku tinggalkan hingga mati; Puasa tiga hari setiap bulan, shalat Dhuha dan tidur dalam keadaan sudah melakukan shalat Witir."
(HR. Bukhari dan Muslim)

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنْ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ 
“Sungguh, amalan hamba yang pertama kali dihisab dari seorang hamba adalah shalatnya. Apabila bagus maka ia telah beruntung dan sukses, dan bila rusak maka ia telah rugi dan menyesal. Apabila shalat wajibnya kurang sedikit, maka Rabb ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Lihatlah, apakah hamba-Ku itu memiliki shalat tathawwu’ (shalat sunnah)!’ Lalu, dengannya disempurnakanlah kekurangan yang ada pada shalat wajibnya tersebut, kemudian seluruh amalannya diberlakukan demikian.” 
(HR. at-Tirmidzi) 

"Barang siapa sholat Dhuha 12 rakaat, Allah akan membuatkan untuknya istana di surga." 
(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى “
Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar ma’ruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 2 raka’at” 
(HR. Muslim)

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا ابْنَ آدَمَ لاَ تَعْجِزْ عَنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَكْفِكَ آخِرَهُ 
Allah Ta’ala berfirman,“Wahai anak Adam, janganlah engkau luput dari empat rakaat di awal harimu, niscaya akan Aku cukupkan untukmu (rezeki)  di sepanjang hari itu.” 
(HR. Ahmad)

“Tidaklah seseorang selalu mengerjakan shalat Dhuha kecuali ia telah tergolong sebagai orang yang bertaubat.” 
(HR. Hakim)

لاَ يُحَافِظُ عَلَى صَلاَةِ الضُّحَى إِلاَّ أَوَّابٌ قَالَ وَهِيَ صَلاَةُ الأَوَّابِيْنَ 
“Tidaklah seseorang selalu mengerjakan shalat Dhuha kecuali ia telah tergolong sebagai orang yang bertaubat.” 
(HR. Hakim)

“Barangsiapa yang shalat Dhuha dua rakaat, maka dia tidak ditulis sebagai orang yang lalai. Barangsiapa yang mengerjakannya sebanyak empat rakaat, maka dia ditulis sebagai orang yang ahli ibadah. Barangsiapa yang mengerjakannya enam rakaat, maka dia diselamatkan di hari itu. Barangsiapa mengerjakannya delapan rakaat, maka Allah tulis dia sebagai orang yang taat. Dan barangsiapa yang mengerjakannya dua belas rakaat, maka Allah akan membangun sebuah rumah di surga untuknya,” 
(HR. At-Thabrani)


Dalil dan Dasar Keutamaan Sedekah

 
Dalil dan Dasar Keutamaan Sedekah

وَمَا تُنفِقُوا۟ مِنْ خَيْرٍ فَلِأَنفُسِكُمْ ۚ وَمَا تُنفِقُونَ إِلَّا ٱبْتِغَآءَ وَجْهِ ٱللَّهِ ۚ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لَا تُظْلَمُونَ
"Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan)." 
(QS. Al-Baqarah [2] : 272)

يَمْحَقُ ٱللَّهُ ٱلرِّبَوٰا۟ وَيُرْبِى ٱلصَّدَقَٰتِ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ
"Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa." 
(QS. Al-Baqarah [2] : 276)

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ 
"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui."
(QS. Al-Baqarah [2] : 261)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَنفِقُوا۟ مِن طَيِّبَٰتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّآ أَخْرَجْنَا لَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا۟ ٱلْخَبِيثَ مِنْهُ تُنفِقُونَ وَلَسْتُم بِـَٔاخِذِيهِ إِلَّآ أَن تُغْمِضُوا۟ فِيهِ ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ حَمِيدٌ 
"Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji." 
(QS. Al-Baqarah [2] : 267).

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ 
"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya."
(QS. Az-Zalzalah [99] : 7)

قُلْ إِنَّ رَبِّى يَبْسُطُ ٱلرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِۦ وَيَقْدِرُ لَهُۥ ۚ وَمَآ أَنفَقْتُم مِّن شَىْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُۥ ۖ وَهُوَ خَيْرُ ٱلرَّٰزِقِينَ
"Katakanlah: 'Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)'. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya." 
(QS. Saba' [34] : 39)

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّه
"Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang yang rendah hati karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya." 
(HR. Muslim)

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُولُ الْآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا 
"Tidak ada suatu hari pun ketika seorang hamba melewati paginya kecuali akan turun dua malaikat. Lalu salah satunya berkata, 'Ya Allah berikanlah pengganti bagi siapa yang menafkahkan hartanya', sedangkan yang satunya lagi berkata, 'Ya Allah berikanlah kehancuran (kebinasaan) kepada orang yang menahan hartanya (bakhil)." 
(HR. Bukhari dan Muslim)

إِنَّ ٱلْمُصَّدِّقِينَ وَٱلْمُصَّدِّقَٰتِ وَأَقْرَضُوا۟ ٱللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَٰعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ
"Sesungguhnya orang-orang yang membenarkan (Allah dan Rasul-Nya) baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak." 
(QS. Al-Hadid [57] : 18)

 اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ
"Jagalah diri kalian dari neraka sekalipun hanya dengan sebiji kurma, kalaulah tidak bisa, lakukanlah dengan ucapan yang baik." 
(HR. Bukhari)

“Naungan orang beriman di hari Kiamat adalah sedekahnya.”
(HR Ahmad)

لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا
"Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar." 
(QS. An-Nisa [4] : 114)

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ 
"Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)."
(QS. Al-An'am [6] : 160)

“Setiap ruas tulang manusia harus disedekahi setiap hari di saat terbitnya matahari: berbuat adil terhadap dua orang (mendamaikan) adalah sedekah; menolong seseorang naik kendaraannya, membimbingnya, dan mengangkat barang bawaannya adalah sedekah, ucapan yang baik adalah sedekah; Berkata yang baik juga termasuk sedekah. Begitu pula setiap langkah berjalan untuk menunaikan sholat adalah sedekah. Serta menyingkirkan suatu rintangan dari jalan adalah sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Ada seseorang yang datang kepada Nabi SAW dan bertanya: “Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling besar pahalanya?” Beliau menjawab” “Bersedekahlah sedangkan kamu masih sehat, suka harta, takut miskin dan masih berkeinginan kaya. Dan janganlah kamu menunda-nunda sehingga apabila nyawa sudah sampai tenggorokan, maka kamu baru berkata: “Untuk fulan sekian dan untuk fulan sekian, padahal harta itu sudah menjadi hal si fulan (ahli warisnya).” 
(HR. Bukhari dan Muslim)

“Dan di hari Jumat pahala bersedekah dilipatgandakan.” 
(Imam Syafi’i, Al-Umm)

لَن تَنَالُوا۟ ٱلْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا۟ مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِن شَىْءٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ 
"Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan (sebagian harta) yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya."
 (QS. Ali Imron [3] : 92)

"Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sedekah.” 
(HR Al-Baihaqi)

Allah berfirman: "Hai anak Adam, infaklah (nafkahkanlah hartamu), niscaya Aku memberikan nafkah kepadamu."
(HR Muslim).

"Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersedekah dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana.” 
(HR Ath-Thabrani).



Dalil dan Dasar Keutamaan Belajar dan Mengajar Al-Qur'an


Dalil dan Dasar Keutamaan Belajar dan Mengajar Al-Qur'an

 I. Dalil dan Dasar Keutamaan Belajar/Ilmu Secara Umum

يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat."
(QS. Al-Mujadalah [58] : 11)

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ 
“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” 
(HR. Muslim)

مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ 
“Barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) dunia, maka hendaknya dengan ilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) akhirat, maka hendaknya dengan ilmu.” 
(Manaqib Asy Syafi’i)

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ 
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim” 
(HR. Ibnu Majah)

مَنْ خَرَجَ فِى طَلَبُ الْعِلْمِ فَهُوَ فِى سَبِيْلِ اللهِ حَتَّى يَرْجِعَ 
"Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang." 
(HR. Tirmidzi)

اِذاَ ماَتَ ابْنُ اٰدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَث: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ اَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَه
“Apabila anak cucu Adam telah mati, terputuslah amalannya kecuali 3 perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan orang tuanya.” 
(HR Muslim).

II. Dalil dan Dasar Keutamaan Mengajar Secara Umum

تَعَلَّمُوْاوَعَلِّمُوْاوَتَوَاضَعُوْالِمُعَلِّمِيْكُمْ وَلَيَلَوْا لِمُعَلِّمِيْكُمْ 
"Belajarlah kamu semua, dan mengajarlah kamu semua, dan hormatilah guru-gurumu, serta berlaku baiklah terhadap orang yang mengajarkanmu." 
(HR. Tabrani)

تَعَلّمُواالعِلْمَ وَتَعَلّمُوْا لِلْعِلْمِ السّكِيْنَةَ وَالْوَقَا رَ وَتَوَاضَعُوْا لِمَنْ تَتَعَلّمُوانَ مِنْهُ 
"Belajarlah kalian ilmu untuk ketentraman dan ketenangan serta rendah hatilah pada orang yang kamu belajar darinya" 
(HR. At-Tabrani)

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ 
"Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)."
(QS. Al-Baqarah [2]: 269)

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
"Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran."
(QS. Az-Zumar [39] : 9)

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama." 
(QS. Fatir [35] : 28)

قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّهُ لَيَسْتَغْفِرُ لِلْعَالِمِ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ حَتَّى الْحِيتَانِ فِي الْبَحْرِ 
"Sesungguhnya akan memintakan ampun untuk seorang alim makhluk yang di langit dan di bumi hingga ikan hiu di dasar laut." 
(HR. Ibnu Majah) 

III. Dalil dan Dasar Keutamaan Belajar dan Mengajar Al-Qur'an

إِنَّ أَفْضَلَكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ 

"Sesungguhnya orang yang paling utama di antara kalian adalah seorang yang belajar Al Quran dan mengajarkannya." 
(HR. Bukhari)

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ 
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.”
(HR. Bukhari)

Rabu, 13 Oktober 2021

Karya Kaligrafi Qur'an Santri Anamfal Nurhayati dalam MTQ Cirebon 2021

 

Kaligrafi Qur'an Surah Al-Hasyr


Karya Kaligrafi Qur'an Santri Anamfal Nurhayati (Rokan Hulu, Riau)


Karya Kaligrafi Qur'an Santri Anamfal Nurhayati dalam MTQ Cirebon 2021



Nurhayati Juara 1 Lomba Kaligrafi Qur'an dalam Peringatan Tahun Baru Islam Muharram 1443 H

 

Hasil Karya Kaligrafi Qur'an Nurhayati



Nurhayati (Santri asal Riau) Juara 1 Lomba Kaligrafi Qur'an 
dalam Peringatan Tahun Baru Islam Muharram 1443 H, tingkat Pesantren Qur'an Anamfal



Santri Anamfal Mengikuti Lomba MHQ 5 Juz dan MKQ Pada MTQ Tingkat Kab. Cirebon 2021

 Santri Anamfal Mengikuti Lomba MHQ 5 Juz dan MKQ Pada MTQ Tingkat Kab. Cirebon 2021

Pelepasan pemberangkatan MTQ Kab. Cirebon oleh Abi Faisal Hilmi, M.A dan Umi Faridah Ashsholihah, S.Pd

Berkat Rahmat Allah SWT, doa orangtua, bimbingan Asatidz, dan bantuan Muhsinin Anamfal. Santri Anamfal M. Rozak dan Nurhayati (asal Riau), berhasil lulus juara 1 MTQ tingkat kec. Susukanlebak, Cirebon. 

Otomatis akan mewakili kecamatan dalam tingkat kabupaten Cirebon. Pagi ini, Jum'at 24 Sept 2021 menjalani tes swab untuk karantina pelatihan lomba Jumat-Ahad, dan lomba MTQ Tingkat Kab. Cirebon pada senin, 27 Sept 2021. Sebagai tuan rumah, saat ini kec. Greged. Menerapkan protokol kesehatan saat lomba, yang insya Allah akan dibuka resmi oleh Bupati Cirebon.

M. Rozak akan lomba dalam MHQ (Musabaqah Hifzul Qur'an) 5 Juz dan Nurhayati, akan lomba MKQ (Musabaqah Kaligrafi Quran). Jika juara 1, akan diikutkan pada lomba MTQ tingkar Prov. Jawa Barat.

Pembinaan Kafilah Kec. Susukanlebak, untuk Lomba MTQ Kab. Cirebon 2021

Penampilan M. Rozak (Santri Anamfal), dalam Lomba MHQ 5 Juz pada MTQ Cirebon 2021

Penampilan Nurhayati (Santri Anamfal), dalam Lomba MKQ (Kaligrafi Qur'an) pada MTQ Cirebon 2021


Mudabbir Anamfal 2021-2022

 

Mudabbir Anamfal 2021-2022

M. Rozaq dan M. Habibullah
(Rokan Hulu, Riau)


*Santri Anamfal yang telah menyelesaikan masa pendidikan pesantren dan sekolah, dan memasuki masa pengabdian 5  M selama 1 tahun.

Salurkan Wakaf Terbaik untuk Pembangunan Asrama Putra-Putri Penghafal Qur'an

Salurkan Wakaf Terbaik untuk Pembangunan Asrama Putra-Putri Penghafal Qur'an
Wakaf Mulai Rp 100.000 Saja. Bagi >Rp 1.000.000 Akan Mendapatkan Sertifikat Wakaf

Pesantren Qur'an Anamfal

Sekretariat Pesantren Quran Anamfal 

Jl. Prakasa 1 No. 243,
 Asem, Lemahabang, Cirebon 
West Java - Indonesia

Kontak

Call Center
CS +62899-5625-137 
Hilmi +62853-5135-5201 

Email: anamfal.pesantren@gmail.com 
Web : www.anamfalpesantren.com

Daftar Orang Tua Asuh

Visitors